Jumat, 21 Desember 2007

Bila Bencana Alam Menjadi Mulok di Ciamis

Oleh H. UNDANG SUNARYO
Menurut rencana mulai tahun ajaran 2007-2008, Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Ciamis akan menggulirkan kurikulum muatan lokal (mulok) tentang penanganan bencana alam (PBA) untuk sekolah dasar (SD) dan madrasah ibtidaiyah (MI).
SEMUA kelengkapan bahan ajar, silabus, rencana pelajaran (renpel), alokasi waktu, dan sebagainya sudah dipersiapkan tim khusus. Perjuangan menuju ke arah saat pengguliran ide tersebut, diperlukan beberapa tahapan. Pertama, tim penyusun melakukan perbaikan materi bahan ajar yang masih bersifat global menjadi bahan ajar spesifik sesuai dengan kondisi daerah.
Kedua, tim penyusun yang bekerja sama dengan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Jabar memberikan tiga alternatif pilihan. (1) Mulok PBA nantinya akan dijadikan sebagai pelajaran mulok pilihan; (2) Diintegrasikan dengan semua mata pelajaran yang ada; (3) Atau sebagai pelajaran ekstrakurikuler. Yang menentukan pilihan tentu instansi terkait, dalam hal ini dinas pendidikan setempat yang memperoleh legalitas formal dari Pemkab Ciamis.
Pada seminar dan lokakarya (semiloka) "Membangun kesiapsiagaan menghadapi bencana melalui pendidikan" yang berlangsung 7 dan 8 Februari 2007 di Pangadaran, penyelenggara menghadirkan para pakar, seperti Drs. H. Wawan A.S. Arifien (Kadisdik Kab. Ciamis), Ir. Gatot Moch. Soedradjat (dari Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Gempa Bandung), Drs. H. R. Rachman (pakar kurikulum dari Widyaiswara Disdik Jabar), dan Dedi Jasmara, S.Sos. (pakar lingkungan Walhi Pusat).
Para pakar kemudian mengevaluasi sejauhmana rencana mulok PBA layak atau tidak diajarkan di lingkungan pendidikan, berkaitan Kab. Ciamis tergolong daerah yang rawan bencana. Para pakar itu menilai, amatlah bagus pendidikan tentang penanganan bencana alam dan lingkungan hidup diajarkan di lembaga pendidikan formal mulai dari tingkat pendidikan dasar. Diharapkan sedini mungkin anak-anak mengetahui, mengerti, dan paham tentang penanganan bencana serta cinta akan lingkungan alam sekitar.
Hal ini sejalan dengan program Gubernur Jabar yang menggulirkan program pendidikan lingkungan hidup ke lembaga pendidikan. Rencananya, program ini diproklamasikan pada peringatan Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2007.
Setelah memperoleh restu dari para pakar, semiloka pun menghasilkan sebuah rekomendasi, yang isinya meminta pihak terkait untuk dapat kiranya melegalisasi kurikulum mulok PBA pada tahun pelajaran mendatang. Sebelum kurikulum mulok PBA dilegalkan, Disdik Kabupaten Ciamis tentu mempertimbangkan matang-matang tentang pilihan mulok PBA sebagai kegiatan ekstrakurikuler. Pertimbangannya barangkali dalam penanganan kebencanaan dan lingkungan hidup murid-murid perlu banyak melakukan praktikum (kerja nyata). Bila yang dipilih lalu diintegrasikan berarti materi ajar mulok PBA harus diselipkan ke setiap mata pelajaran yang ada.
Seandainya yang akan dipilih mulok PBA sebagai mulok pilihan, risikonya tentu kurikulum yang ada menjadi bertambah. Perlu diperhatikan, dengan hadirnya mulok PBA jangan sampai mengganggu pelajaran yang sudah ada. Lebih jauh nantinya, sekolah harus mampu memiliki guru berkompetensi dan bersertifikasi tentang bencana alam atau lingkungan hidup.
Sejalan dengan diberlakukannya kurikulum tingkat satuan pelajaran (KTSP), sebelum digulirkannya mulok PBA, Pemkab Ciamis harus sudah memiliki tata ruang dan pemetaan, daerah-daerah yang masuk kategori rawan bencana. Hal itu dimaksudkan agar sekolah mampu membuat KTSP mulok PBA sesuai dengan tata ruang dan kondisi alam di daerahnya.
Bencana alam yang sering terjadi di setiap daerah di Kab. Ciamis sangat bervariasi, di kawasan pantai selatan seperti di Kec. Pangandaran, Cimerak, Cijulang, dan Parigi dikenal rawan air laut pasang serta tsunami. Di Kec. Banjarsari, Pamarican, dan Kalipucang, dikenal rawan bencana angin puting beliung. Di Ciamis utara seperti Kec. Panawangan, Kawalim Rahadesam, dan Panumbangan rawan longsor, kekeringan serta banjir.
Meski banyak pekerjaan rumah menuju digulirkannya kurikulum mulok PBA nanti, sudah barang tentu pemkab setempat, termasuk tim penyusun mampu menggolkannya. Mulok PBA sangat dibutuhkan mengingat Ciamis sering dilanda bencana.***
Penulis, Kepala SDN Pilangsari II Kecamatan Jatibarang, Kabupaten Indramayu.

Tidak ada komentar: