Senin, 24 Desember 2007

Antara Angkot dan Udara Bersih Bandung (1)

krisna
Senin, 21 - Mei - 2007, 22:25:33

klik untuk memperbesarBeberapa dari kita mungkin tidak mengambil pusing hubungan antara perilaku angkutan kota alias "angkot" dengan udara bersih kota Bandung. Kalau ada angkot berhenti sembarangan –apalagi dengan tiba–tiba– umumnya yang terpikir adalah "bikin boros bensin" atau "ngelama–lamain perjalanan." Lain halnya dengan Ibu Driejana, PhD. Dosen Teknik Lingkungan dengan bidang keahlian udara ini berpikir "bikin pencemaran udara di Bandung semakin parah."

Driejana menggelar penelitian yang menyelidiki apakah perilaku angkot yang seenaknya berhenti di sembarang tempat memiliki andil dalam membuat udara Bandung semakin kotor dan kotor. Untuk mengarahkan ke pada solusi masalah, penelitiannya juga bermisi mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan mengenai pencemaran udara dengan penerimaan terhadap perubahan perilaku dan usaha untuk memperbaiki kualitas udara. Dari situ, Driejana merumuskan serangkaian rekomendasi mengatasi masalah kompleks ini. Poin–poin hasil penelitiannya menjadi harapan akan udara kota Bandung yang lebih baik.

Pijakan pertama penelitian Driejana adalah kendaraan berkecepatan rendah akan mengemisikan pencemar yang lebih banyak. Diketahui bahwa kecepatan rerata daerah perkotaan seperti Bandung adalah 10 km/jam. Emisi CO kendaraan pada kecepatan tersebut adalah 1,5 kali lebih besar dari emisi CO kendaraan berkecepatan 30 km/jam. Sementara itu, emisi CO2 kendaraan berkecepatan 10 km/jam nyaris dua kali lipat emisi CO2 kendaraan berkecepatan 40 km/jam. Ketimpangan semakin besar pada parameter emisi NO. Kecepatan optimum untuk emisi NO adalah 50 km/jam. Pada kecepatan tersebut, emisi NO hanya 1/5 dari emisi pada kecepatan rata–rata kota, 10 km/jam.

Melihat itu, maka menjadi jelas bahwa perilaku mengemudi ’angkot’ yang berhenti seenaknya dijamin akan memperparah pencemaran udara. Dengan berhenti di sembarang tempat, angkot akan sering menimbulkan macet, atau paling tidak mengurangi kecepatan kendaraan. Alhasil emisi dari kendaraan bermotor akan meningkat.

Penelitian Driejana yang meneliti 300 supir angkot dan 697 responden publik ini dibagi ke dalam tiga pertanyaan mendasar:
1. Apakah masyarakat tahu bahaya pencemaran udara oleh kendaraan bermotor?
2. Tindakan konkrit apa yang dapat dilakukan masyarakat mulai dari sekarang untuk memperbaiki kualitas udara?
3. Akankah masyarakat berubah bila mengetahui bahaya pencemaran udara?

Pada umumnya (60–80 persen) masyarakat sudah mengetahui emisi menyebabkan pencemaran udara. Lebih dari 50 persen sadar akan bahaya emisi gas buang. Sayangnya hanya setengah yang menyadari bahwa perilaku berkendara angkot yang nakal akan meningkatkan emisi kendaraan. Saat dihadapkan dengan solusi adanya ’shelter’ (halte angkot) dan penegakan peraturan, sebagian besar responden menyatakan setuju dan yakin bahwa itu akan mengurangi permasalahan "angkot nakal" yang juga berujung pada tingkat pencemaran yang lebih kecil. Pada responden pengguna fasilitas angkot, 70 persen setuju dengan pembangunan ’shelter’ dan 60 persen setuju dengan penegakan peraturan. Dari sisi responden bukan–pengguna angkot, 80 setuju dengan pembangunan ’shelter’ dan 65 persen setuju dengan penegakan peraturan.

Ternyata, pengemudi angkot pun mau berhenti di halte (61 persen). Alasannya, keberadaan halte angkot diyakini akan mempermudah mendapatkan penumpang. Ini dengan catatan bahwa lama berhenti setiap angkot di halte dibatasi. Namun, pembangunan halte angkot bukan tanpa masalah. Salah satu masalah terbesar datang dari calon penumpang angkot. Hasil survei membuktikan bahwa sebagian besar calon penumpang angkot Bandung hanya mau berjalan hingga 200 meter untuk menuju ke halte terdekat. Ini berbeda dengan hasil survei calon penumpang Busway di Jakarta yang bersedia berjalan hingga 300 meter; bahkan 20 persen di antaranya bersedia berjalan hingga 500 meter menuju halte busway terdekat. Selain itu persepsi halte bagi banyak orang pun masih negatif. Halte dianggap tidak nyaman, kotor, dan bahkan, sering tidak aman. Fasilitas pejalan kaki menuju ke halte pun dinilai masih minim.

(bersambung ...)

Tidak ada komentar: